Perilaku Berkendara Didikan Jalanan

Kata "jalanan" seringkali dipasangkan dengan kata-kata yang menjadi kalimat dengan arti ke arah negatif dan mengarah yang tidak baik. Dan kita tenggelam serta seperti menyetujui hal ini sampai membudaya dalam kehidupan kita sehari-hari. Padahal di era informasi global kita bisa melihat kehidupan negara lain ada yang jalanannya begitu aman dan nyaman bagi penggunanya. Iri memang, pengen negara kita kayak gitu, tapi bagi yang nyinyir pasti bilang, pindah aja elu kesono. Ah songong....

Tapi inilah kenyataan negara kita Indonesia, walaupun mungkin tidak semua daerah, tapi saya yakin sebagian besar akan sama dengan gambaran saya. Kesadaran akan etika berkendara kita amat sangat rendah, dan bahkan kita dipaksa untuk bertoleransi terhadap kebiasaan dan kelakuan tak pantas dilakukan di jalan raya ketika berkendara. 

Contoh paling umum, duduk diatas motor ketika bertemu dengan rekan dan ngobrol asik, tapi posisi berhenti menghalangi lalu lintas 2 arah yang akan melintas, tapi anehnya pengendara mengalah untuk contra flow bergantian tanpa ada yang berani menegur karena segan bahkan takut berperkara dengan akamsi, 2 orang / lebih asik melanjutkan obrolan tanpa ada yang mengingatkan rekannya untuk minggir menepi terlebih dahulu supaya lalu lintas lancar, tanpa sadar mereka mengemis toleransi dari para pelintas tapi dengan sikap cuek arogan, sekali lagi, Ah songong....

Contoh lain sangat melimpah disini....

Kembali ke laptop, dengan kata jalanan yang lebih condong negatif, akhirnya cerita ini menjadi sebuah penguat bahwa memang jalanan kita penuh dengan sikap dan tabiat tak baik. Aku memang dididik berkendara motor oleh Ibuku sejak sekolah SMP, beliau selalu mengingatkan entah pada saat aku atau beliau yang memegang kemudi, selalu lihat kanan kiri sampai benar2 aman untuk menyebrang, selalu gunakan spion dan pastikan aman untuk pindah jalur dan nyalakan lampu sein, pastikan semua fungsi motor berfungsi baik, sesuaikan jalur dengan kebutuhan jangan serakah (kalo pelan minggir dan beri kesempatan jika ada yang mau mendahului/ jangan pelan di jalur tengah), jaga jarak antar kendaraan, sopan dan bijak menggunakan segala fasilitas kendaraan dan jalanan.

Dan akhirnya, semua ajaran Ibukku hampir tak terpakai, karena aku lebih terdidik oleh perilaku berkendara pengendara lain saat kami bersama dalam 1 jalanan, sikap saling potong, klakson/lampu dim dihajar tanpa lihat situasi, bagian motor menyenggol bahkan menempel bagian motor orang lain, merokok/pakai hape/makan sambil berkendara, knalpot bising. Dan mereka melakukan dengan cuek tidak peduli dengan sesama pengguna jalan.

Aku kini sama dengan mereka, sikap dan ketidak pedulianku dengan yang lain, dan bahkan ketika mode defensifku menyala karena suatu hal memicu, bahkan aku lebih ugal2an seperti tak ada rasa takut jika terjadi suatu salah paham / road rage.

Padahal saat berangkat udah niat untuk hanya berkonsentrasi sampai ke tujuan dengan selamat dan lancar, bahkan setelah berdoa kemudian jalan sebentar, langsung dipotong secara brutal sampe hampir jatuh, aku harus membalas dengan cara yang sama dan selalu siap untuk berpekara di jalan, debat panas saling umpat di atas motor, diajak menepi pun selalu siap dengan kondisi apapun. Diklakson tanpa jeda oleh kendaraan yang mau minta jalan dengan kondisi yang tidak memungkinkan, aku geser sampai posisi di belakangnya dan kubalas hajar klakson. Ini hampir tiap hari aku lakukan, dan sekarang cara berkendaraku sudah sangat beda dengan ajaran Ibukku. Dan sejatinya guruku dalam cara berkendara di jalanan adalah pengguna jalan lain. 

Hai para pengendara, aku adalah cerminan dirimu. Aroganmu aroganku, nyolotmu nyolotku, aku hanya membalas semua yang terjadi ke aku akibat sikapmu....

Pada akhirnya ketika aku sadar bahwa itu semua percuma karena akan membuatku rugi sendiri, tapi..... Besoknya berkendara kembali ke mode awal, defensive revenge riding mode ON, harus dibalas secara spontan.

Aku hanyalah salah satu, di jalur berkendaraku ada ratusan bahkan ribuan pengendara yang juga terdidik dengan cara ini. Di jalanan nggak ada yang namanya Etika, yang ada adalah Bertahan dengan cara yang seperti dicontohkan oleh anda anda semua sesama pengendara.

Mau berubah harus bersama sama, dan saya yakin itu amat sangat sulit dan bahkan tidak mungkin. Karena siapapun yang ingin memulai dengan kebaikan, pasti akan diakhiri oleh orang lain dan yang tersisa adalah pembalasan yang spontan.


Comments